Organisasi Kemahasiswaan Berlandaskan Pendidikan Karakter Menuju Masyarakat Madani
Organisasi Kemahasiswaan
Berlandaskan Pendidikan Karakter Menuju Masyarakat Madani
Endang Puji Kurniasih
Mahasiswa
memiliki intelek yang cukup bagus dan pemikiran yang lebih matang, sehingga
diharapkan mereka dapat bermanfaat bagi masyarakat. Namun, terkadang kita
menjumpai mahasiswa yang acuh terhadap permasalahan yang ada disekitarnya, yang
hanya memikirkan dirinya sendiri, itu hanya sebagian kecil dari mahasiswa yang
memiliki sifat seperti itu. Kita harus sadar bahwa kita hidup itu untuk
bermasyarakat, bukan individualis. Jadi, sudah menjadi kewajiban kita untuk
peka atau perhatian dengan lingkungan kita. Ikut berperan aktif dalam
menghadapi permasalahan yang ada, setidaknya kita berkontribusi baik secara
langsung maupun tidak langsung. Itulah sedikit gambaran yang pernah kita temui
dalam kehidupan kita sebagai mahasiswa. Maka apa sih yang harus kita lakukan?
Berdiam diri atau bergerak. Tentu saja bergerak membawa perubahan menuju arah
yang lebih baik. Dengan karakter yang baik pula yang harus dimiliki setiap
mahasiswa, untuk menjadi pribadi yang intelek dan berkarakter. Terdapat 18
nilai karakter pembentuk bangsa yaitu religius, jujur, toleransi, disiplin,
kerja keras, kreatif, mandiri, rasa ingin tahu, semangat kebangsaan, cinta
tanah air, menghargai prestasi, cinta damai, gemar membaca, peduli lingkungan,
dan tanggung jawab (Mansur, 2014:6-7). Sehingga melalui organisasi
kemahasiswaan yang berlandaskan pendidikan karakter dapat membawa perubahan
menuju masyarakat madani.
Pendidikan
nonformal diselenggarakan bagi warga masyarakat yang memerlukan layanan pendidikan
yang berfungsi sebagai pengganti, penambah, dan/atau pelengkap pendidikan formal
dalam rangka mendukung pendidikan sepanjang hayat (UU No.20 Tahun 2003 Pasal 26
ayat (1)). Salah satu bentuk dari
pendidikan nonformal yaitu organisasi kemahasiswaan. Organisasi kemahasiswaan,
dari mahasiswa yang nantinya akan terjun dalam berbagai kegiatan kemasyarakatan.
Seperti kegiatan di kampus sebagai mahasiswa tidak hanya aktif dalam bidang
akademik, namun juga aktif dalam bidang non akademik seperti mengikuti
organisasi dalam kampus. Karena dengan mengikuti organisasi internal maupun
eksternal kampus maka akan melatih mahasisiwa menjadi bagian masyarakat yang
akan membawa perubahan menuju masyarakat madani. Pada dasarnya menciptakan
masyarakat madani tidaklah semudah kita membalikkan telapak tangan, namun perlu
waktu yang panjang dengan berbagai kegiatan yang mendorong masyarakat menuju ke
arah sana. Dari organisasi kemahasiswaan di dalam dan luar kampus maka dengan
penanaman pendidikan karakter pada diri mahasiswa dalam setiap keputusan yang
diambil akan membawa dampak positif bagi mahasiswa itu sendiri yang akan
menjadi agen perubahan dalam masyarakat. Karena pada dasarnya, lingkungan
kampus adalah miniatur dari lingkungan masyarakat, sebelum mahasiswa dapat
terlibat secara langsung dengan masyarakat yang telah memiliki berbagai
komponen tersendiri dalam praktik kehidupannya. Sehingga diperlukan strategi
yang dapat memberikan peluang dan kesempatan bagi mahasiswa untuk mengembangkan
potensial yang dimiliki dalam menerapkan pendidikan karakter, sebagai berikut:
a. Mahasiswa
sebagai agen perubahan, melalui organisasi internal dan eksternal kampus.
Mahasiswa tidak seharusnya berdiam diri melihat dan mendengar berbagai isu yang
terjadi di lingkungan sekitarnya. Harus ada peran aktif yang melibatkan diri
mereka, sehingga mahasiswa menjadi subjek atau pelaku dalam memecahkan masalah
yang ada. Sehingga dapat meluruskan sesuatu yang salah menuju kebenaran menurut
perspektif mereka. Mahasiswa adalah kaum intelektual dengan berbagai ilmu
pengetahuan yang menjadi dasar dalam mengambil keputusan dan memecahkan masalah
yang ada. Jadi, dengan adanya organisasi kampus, mereka akan membawa perubahan
terutama di lingkungan kampus mereka terlebih dahulu, kemudian dengan adanya
organisasi di luar kampus itu akan menambah wawasan mereka dalam menghadapi
berbagai permasalahan yang didalam kampus sulit diatasi, ternyata mereka
menemukan jalan keluarnya lewat organisasi luar kampus tersebut. Sehingga
melalui kegiatan internal dan eksternal kampus akan membawa mahasiswa sebagai
agen perubahan bagi sesama mahasiswa maupun masyarakat.
b. Peran
aktif dalam organisasi dan masyarakat. Mahasiswa yang mengikuti organisasi
tentu akan menjadi mahasiswa yang aktif, bukan hanya aktif dalam kelas saja,
namun diluar kelas. Mereka tidak hanya
menjadi orang yang hanya belajar, namun juga menerapkan ilmu mereka dalam berbagai
situasi yang masih dalam lingkup mahasiswa. Tanggap dengan berbagai keadaan di
lingkungannya, dimana mereka bermanfaat bagi mahasiswa lainnya yang membutuhkan
bantuan mereka sesuai dengan organisasi yang diikutinya di dalam kampus. Dan
bergabung atau ikut serta dalam kegiatan kemasyarakatan. Melalui keikutsertaan
dalam masyarakat, maka mereka akan menumbuhkan rasa kepedulian sesama manusia,
karena secara langsung mereka tahu apa kebutuhan masyarakat, dan masalah apa
yang sedang dihadapi masyarakat, sehingga dapat membantu mereka dalam
memecahkan masalah. Disini mereka hanya menjadi fasilitator bagi masyarakat.
c. Mengoptimalkan
kegiatan yang berwawasan pendidikan karakter yaitu kegiatan yang kreatif dan
mandiri, sehingga diharapkan menjadi kebiasaan bagi mahasiswa dan masyarakat.
Organisasi kemahasiswaan akan memberikan kegiatan yang membawa mahasiswa menuju
mahasiswa yang kreatif. Kegiatan yang akan menjurus pada pengembangan kemampuan
afektif dan psikomotorik. Lebih mengedepankan kegiatan yang berlandaskan
pendidikan karakter, berupa nilai-nilai moral yang patut untuk dilaksanakan.
Sehingga membentuk insan yang berjiwa sosial dan bernilai luhur. Dengan
kegiatan yang kreatif dan mandiri, maka mahasiswa maupun masyarakat yang
terlibat akan dapat mencipta dan mengeksplor sesuai dengan kreatifitas
masing-masing individu. Kebijakan program-program yang dibuat untuk kelompok
masyarakat adalah salah satu bentuk aktifitas pendidikan yang diselenggarakan
dalam masyarakat (Ibnu Syamsi 2010:59)
d. Menciptakan
lingkungan kampus yang harmonis. Biasa kita temui dalam lingkungan kampus berbagai
masalah antar mahasiswa maupun dengan warga kampus sehingga terjalin hubungan
yang tidak baik diatara kedua pihak. Maka melalui keorganisasian kampus dapat
menangani masalah tersebut, dengan bantuan berbagai pihak. Karena kita hidup
dalam lingkungan satu dimana harus saling melengkapi satu sama lain. Dengan
terciptanya lingkungan yang harmonis maka akan mudah dalam meningkatkan
kualitas kampus, begitu juga dalam masyarakat. Organisasi kampus yang
bekerjasama dengan masyarakat juga akan membawa masyarakat menuju peningkatan
dalam menjalankan program-programnya yang berwawasan pendidikan karakter.
e. Menjalin
hubungan yang baik dengan mahasiswa lain dan masyarakat sekitar. Menjadikan
mahasiswa lain dan masyarakat sebagai subjek (pelaku) dalam kegiatan-kegiatan pengembangan
pendidikan karakter yang dilaksanakan di kampus maupun lingkungan masyarakat. Bukan
sebagai objek yang bersifat pasif, namun mengaktifka mereka dalam berbagai
kegiatan. Jika terjalin hubungan dengan baik, maka akan mudah dalam melakukan
komunikasi yang baik antara pihak yang satu dengan pihak yang lain. Sebagaimana
dalam melakukan peningkatan program-program yang sedang dijalankan akan
berjalan dengan lancar, jika terjadi komunikasi yang baik. Dengan mudah
mengetahui hambatan apa saja yang dialami dan harus bagaimana menanganinya.
f. Menjadi
contoh yang baik. Dalam organisasi kemahasiswaan tentunya mereka yang terlibat
di dalamnya akan menjadi teladan yang baik bagi mahasiswa lainnya. Maka sebagai
anggota dari organisasi tersebut secara tidak langsung harus memiliki perilaku
dan tingkah laku yang baik, karena mereka tidak hanya membawa nama baik diri
mereka sendiri, namun juga nama baik organisasi yang diikutinya. Pendidikan
karakter dalam hal ini sangatlah diperlukan untuk diterapkan dalam segala
perilaku dan kegiatan yang dilakukan. Karena, jika terjadi penyelewengan maka
akan dipandang sebelah mata oleh orang lain. Sehingga pendidikan karakter yang
baik harus melekat pada diri mereka, dan menjadi teladan bagi mahasiswa lainnya
maupun masyarakat. Jika tingkah laku sudah baik, maka masyarakat juga mudah
menerima mereka dalam lingkungannya.
Seperti
itu strategi yang dapat dilakukan dalam membentuk masyarakat madani yang
dimulai dari lingkup kampus dan organisasi kemahasiswaan di dalamnya. Masyarakat
madani dalam artian negara menjadi suatu cita-cita bagi negara Indonesia ini,
meskipun sebenarnya pada wilayah-wilayah tertentu, pada tingkat masyarakat
kecil, kehidupan yang menyangkut prinsip pokok dari masyarakat madani sudah ada
(M.Soim 2015:25). Kemudian, melalui organisasi luar kampus yang berinteraksi
langsung dengan masyarakat, dengan mengenal, memahami, dan menjadi bagian dari
kehidupan bermasyarakat, itulah awal menciptakan masyarakat madani. Setelah
mengetahui kehidupan masyarakat yang sesungguhnya, maka setidaknya kita
memiliki pandangan akan seperti apa lingkungan masyarakat yang akan kita
ciptakan, sebagai generasi penerus bangsa ini.
Melalui pendidikan karakter yang dalam
pelaksanaannya beriringan dengan kehidupan dalam masyarakat. Hal itu dimulai
dari lingkungan kampus kita sebagai sarana untuk menggali kemampuan
berinteraksi dengan orang lain dan menemukan pemecahan masalah. Organisasi
kemahasiswaan berlandaskan pendidikan karater yang diharapkan dapat membawa
perubahan yang baik menuju masyarakat madani. Masyarakat yang kreatif dan
mandiri tentunya.
Daftar Pustaka
Syamsi,
Ibnu.2010.Pendidikan Luar Sekolah Sebagai
Pemberdaya Dalam Masyarakat. DIKLUS Jurnal Pendidikan Luar Sekolah Vol. 14,
No. 1, Maret 2010:59-67
Mansur.2014.
Implementasi Pendidikan Karakter di
Satuan Pendidikan.Artikel LPMP Sulsel Desember 2014 ISSN. 2355-3189.
(online) (http://www.lpmpsulsel.net/v2/attachments/293_Implementasi%20Pendikar%20dlm%20Satuan%20Pendidikan.pdf.
diakses pada 21 Juli 2017)
Soim,
Muhammad.2015.Miniatur Masyarakat Madani
(Perspektif Pengembangan Masyarakat Islam).Riau:Jurnal RISALAH, Vol. 26, No. 1,
Maret 2015: 23-32 (online) (http://ejournal.uin-suska.ac.id/index.php/risalah/article/download/1211/1092 diakses pada 30 Juli 2017)
Esai ini ditulis untuk Mengikuti Kompetisi
LOMBA
ESAI NASIONAL PENDIDIKAN NONFORMAL 2017
Komentar
Posting Komentar