Mahasiswa sebagai Agen Pemantik “Trend Membaca di Generasi Millenial
Mahasiswa sebagai Agen Pemantik
“Trend Membaca di Generasi Millenial”
Oleh: Endang Puji Kurniasih
Pada
tahun 2030, menjamin bahwa semua anak perempuan dan laki-laki menyelesaikan
pendidikan dasar dan menengah tanpa dipungut biaya, setara, dan berkualitas,
yang mengarah pada capaian pembelajaran yang relevan dan efektif. Itu merupakan
target yang akan dicapai dalam tujuan pembangunan berkelanjutan, dunia
pendidikan yang akan menjadi sasaran utama, karena dari pendidikan kita
memajukan setiap manusia, seperti semboyan kita “no one left bahind” artinya tidak ada seorang pun yang tertinggal
dalam menuju Sustainable Development
Goals tersebut. Semua orang memiliki tujuan yang sama, dan tidak ada
perbedaan diantara mereka, sehigga terciptanya kesatuan untuk semua orang, baik
dalam latar belakang manapun mereka dapat maju bersama. Setiap orang berhak
mendapatkan pendidikan yang insklusif dan merata serta meningkatkan kesempatan
belajar sepanjang hayat untuk semua, itulah yang tercantum dalam buku ringkasan
metadata indikator tujuan pembangunan berkelanjutan yang menjadi tanggung jawab
semua orang. Pendidikan yang merupakan poros dari segala kegiatan manusia,
pendidikan itu mendidik manusia untuk mencapai tujuan hidup mereka.
Tingkat membaca yang rendah
merupakan hal yang sangat memprihatinkan, dimana jika membaca belum bisa
menjadi kebiasaan setiap manusia maka bagaimana kita akan mensejahterakan
manusia jika diri mereka belum berkualitas. Kualitas manusia diukur dari
tingkat pengetahuan yang dimilikinya, baik pengetahuan dalam bidang akademik
dan non akademik. Membaca masih menjadi sesuatu yang belum biasa kita lakukan
layaknya kita bernafas, dimana kita tidak dapat hidup tanpa bernafas. Jika kita
tempatkan membaca layaknya bernafas, dimana kita tidak dapat hidup tanpa
membaca yang merupakan konsumsi kita sehari-hari. Membaca
merupakan dasar bagi pengembangan kemampuan dan kesiapan untuk mengikuti
pendidikan selanjutnya (Depdiknas, 2006).
Membaca
yaitu melihat serta memahami isi dari apa yang tertulis dengan melisankan atau
hanya di hati mengucapkan, mengeja atau melafalkan apa yang tertulis (Apriani,
2015:127). Membaca itu membuka literasi kita tentang dunia ini, apa yang tidak
kita ketahui dan apa yang tidak harus kita datangi namun pengetahuan atau
pengalaman itu dapat kita peroleh dengan membaca. Sejak dini kegiatan yang
sering dilakukan oleh seseorang akan menjadi kebiasaan dalam hidupnya, jadi apa
yang dilakukan orang di masa depannya ialah hasil yang ia tanamkan sejak dini.
Melirik dari pengertian membaca diatas, kita tidak hanya akan sekedar membaca
baik dilisankan maupun dalam hati, namun juga bagaimana kita memahami bacaan
yang sedang kita baca tersebut, mengerti makna yang terkandung di dalamnya.
Hasil
literasi PISA 2015 baru saja dirilis 6 Desember 2016, Hasil tes dan survey
PISA, yang pada tahun 2015 melibatkan 540.000 siswa di 70 negara. Pada tes dan
survey PISA 2015 diperoleh data bahwa Singapura adalah negara yang menduduki
peringkat 1 untuk ketiga materi sains, membaca, dan matematika. Kemudian,
Indonesia berturut-turut rata-rata skor pencapaian siswa-siswi Indonesia untuk
sains, membaca, dan matematika berada di peringkat 62, 61, dan 63 dari 69
negara yang dievaluasi. Peringkat dan rata-rata skor Indonesia tersebut tidak
berbeda jauh dengan hasil tes dan survey PISA terdahulu pada tahun 2012 yang
juga berada pada kelompok penguasaan materi yang rendah. Dari hasil survei
tersebut jelas masih rendahnya membaca terutama di Indonesia sendiri. Bukan
berarti kita akan berdiam diri melihat tingkat rendahnya membaca di Indonesia,
banyak yang harus dilakukan untuk meningkatkan kuantitas dan kualitas membaca
di Indonesia.
Sering
kita jumpai orang di sekeliling kita membaca, membaca apa? Membaca gadget
tentunya atau yang sedang trend adalah Handphone Android. Tentunya setiap orang
memilikinya, bahkan satu orang pun tidak cukup hanya dengan satu Android saja.
Mereka ketergantungan terhadap media sosial, inilah yang dinamakan generasi
millenial. Generasi millenial adalah
generasi muda masa kini yang saat ini berusia antara 15–34 tahun. Teknologi juga membuat
para generasi internet tersebut mengandalkan media sosial sebagai tempat
mendapatkan informasi. Saat ini, media sosial telah menjadi platform pelaporan
dan sumber berita utama bagi masyarakat. Bermacam-macam bacaan yang dibaca oleh
generasi millenial saat ini mulai dari Whatsapp, Facebook, Tweter dsb. Juga
berbagai media sosial yang ada di layar beranda mereka, sesuai dengan
kebutuhan, keinginan dan keperluan individu masing-masing.
Bagaimana jika kita ubah atau kita
alihkan sistem membaca generasi millenial menuju sistem membaca yang
benar-benar terarah dengan tujuan bersama. Hal-hal yang dimaksudkan disini
ialah isi atau konten yang mereka baca yaitu: a) mengalihkan dari membaca media
sosial ke membaca berbagai literasi khusus bidang masing-masing individu,
sehingga mereka dapat lebih mendalami apa yang mereka miliki atau kemampuan
mereka atau bakat yang mereka miliki untuk dapat berguna bagi dirinya sendiri
dan orang lain b) mengarahkan bacaan yang berisi pengetahuan dari umum ke
khusus c) pengaplikasian literasi yg dibaca untuk menunjang passionnya.
Menjadikan kegiatan membaca tersebut
menjadi suatu trend di kalangan mereka, trend yang akan membuat setiap orang
mengikutinya. Dari mana memulainya? Dari kalangan mahasiswa tentunya, karena
mahasiswa adalah agen perubahan dan pemantik yang nantinya mereka yang akan
terjun dalam masyarakat. Trend membaca melalui setiap Android yang dimiliki
setiap individu. Tren yang dibaca akan berbeda dari seperti yang mereka baca
sebelumnya. Yang akan mereka baca adalah buku elektronik atau yang sering kita
kenal dengan sebutan ebook. Menggunakan ebook jauh lebih praktis dibaca,
sehingga yang dibaca generasi millenial dalam androidnya itu bukan lah sosial
media, akan tetapi berbagai ebook yang ada pada android masing-masing. Buku
elektronik (disingkat Buku – e atau ebook) atau buku digital adalah versi
elektronik dari buku.. Buku digital yang dibaca berisi pengetahuan untuk
menambah wawasan pembaca dalam hal postif. Kelebihan ebook yaitu lebih praktis, mudah
dibawa, ramah lingkungan, tahan lama, lebih simple, lebih murah, lebih portable
dsb. Dengan begitu ebook dapat membantu meningkatkan minat baca di kalangan
generasi millenial.
Meningkatkan minat baca atau
menjadikan tren membaca di generasi millenial tidak harus dengan kata-kata atau
berbagai penguatan, namun mengalihkan yang sudah menjadi kebiasaan menuju
kebiasaan yang berbeda. Disini kita menjadi mengetahui apa maksud dari tren
membaca, yaitu mengalihkan dari membaca sosmed ke buku bacaan ebook dalam era
digital saat ini, sehingga akan mengubah
pemikiran kita tentang kebiasaan membaca dari yang hanya ada diri kita
dan sebuah buku di tangan kita menjadi hanya ada diri kita dan sebuah android
di tangan kita. Inilah yang menjadi masalah untuk merubah cara hidup kita.
Masalah dapat diartikan sebagai penyimpangan antara yang seharusnya dengan apa
yang benar-benar terjadi, antara teori dengan praktek, antara aturan dengan
pelaksanaan, antara rencana dengan pelaksanaan (Sugiyono, 2015: 52). Bukankah
kita sudah mengetahui permasalahannya, yaitu tentang merubah cara pandang
tentang penggunaan android menuju pemanfaatan yang lebih nyata, yaitu
menjadikan android berisi dengan hal-hal berbau pengetahuan yang berupa buku
digital, terutama melalui mahasiswa mereka dapat melakukan berbagai program
sosialisasi atau yang lainnya dan juga dimulai dari diri sendiri tentunya. Melaui
tren membaca ayo sebagai mahasiswa Indoensia kita realisasikan pendidikan
berkualitas menuju Sustainable
Development Goals 2013 melalui berbagai ide kreatif yang dapat dilakukan
untuk setiap orang disekeliling kalian, terutama dengan gerakan membaca.
Daftar Pustaka
Apriani.2015. Upaya
Meningkatkan Keterampilan Membaca Permulaan Melalui Penggunaan Media Kata-Kata
Bergambar Pada Siswa Kelas 1 SDN Uekambuno 2. Jurnal Kreatif Tadulako Online
Vol. 4 No. 4 ISSN 2354-614X
Iswadi, Hazrul.2014. Sekelumit dari Hasil PISA 2015 yang Baru
Dirilis. Surabaya: Universitas Surabaya (online) (http://www.ubaya.ac.id/2014/content/articles_detail/230/Overview-of-the-PISA-2015-results-that-have-just-been-Released.html
diakses pada Sabtu, 4 November 2017)
Sugiyono.2015. Metode Penelitian Pendidiakan Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, dan
R&D. Bandung:ALFABETA
Unsur-unsur Kementerian PPN/Bappenas dan
Kementerian Lembaga Terkait, Filantropi dan Pelaku Usaha, Akademisi dan
Organisasi Kemasyarakatan. 2017. Ringkasan
Metadata Indikator Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (TPB)/ Sustainable
Development Goals(SDGs) Indonesia. Jakarta: Kementerian Perencanaan
Pembangunan Nasional/ Bappenas
Winastiti, Agnes. 2016. Generasi Millenial dan Karakteristiknya.(online)
(https://student.cnnindonesia.com/edukasi/20160823145217-445-153268/generasi-millenial-dan-karakteristiknya/
diakses pada Sabtu, 4 November 2017)
Karya Ini
Disusun Untuk Mengikuti Lomba Esai Nasional Event Hunter Indonesia, 2017
“Pembangunan Berkelanjutan (SDG)”
Komentar
Posting Komentar