Eksistensi Peran Pemuda “Generasi Jaman Now” Dalam Memajukan Bangsa Indonesia
Eksistensi Peran Pemuda “Generasi
Jaman Now” Dalam Memajukan Bangsa Indonesia
Oleh : Endang Puji Kurniasih
Jika kita berbicara masalah generasi
sudah pasti menjurus pada pemuda pemudi sebagai generasi penerus bangsa ini.
Akhir-akhir ini sering kita dengar kata-kata ‘kids jaman now’ entah itu dalam
berbagai sosial media maupun kehidupan disekitar kita. Sebenarnya apa maksud
dari kalimat tersebut? Bahkan apabila kaji lebih dalam hal tersebut memiliki
makna yang membuat miris akan generasi ini. Generasi sekarang jauh berbeda
dengan pemuda-pemuda baik dari tingkah laku, pola pikir serta tindakanya jauh
berbeda. Perkembangan teknologi yang merubah semua itu. Sudah tak asing lagi
bagi kita, jika mendengar berita tawuran antar pelajar sekolah menengah, narkoba,
balapan liar, serta moral yang sudah luntur, hingga tingkah laku negatif sudah
menjadi hal biasa bagi mereka, kemudian dari kalangan mahasiswa yang membuat
kerusuhan di kampusnya dengan demonstrasi yang tidak sesuai aturan. Apakah kita
hanya akan diam saja melihat fenomena generasi bangsa ini seperti itu? Tentu
tidak bukan. Mulailah merubah pandangan menuju ke depan, apa yang akan kita
capai dengan membentuk generasi yang mumpuni dalam bidangnya, mengurangi
berbagai perilaku yang menyimpang.
Jika kita tengok pemuda pada masa
penjajahan, mereka berjuang untuk mendapatkan kemerdekaan dengan berbagai ide-ide
yang sesuai dengan porsinya. Kita sebut mereka dengan generasi 45, pemuda yang
berjuang dengan mempelopori berbagai pergerakan nasional, setelah sebelumnya
atau perjuangan bersenjata yang memakan berbagai korban dan diganti oleh pemuda
yaitu dengan pergerakan nasional yang sesuai dengan intelektual. Tercatat pada
tahun 1915-an berdiri sejumlah besar organisasi kepemudaan.yang masih bersifat
kedaerahan, seperti Tri Koro Darmo yang kemudian menjadi Jong Java (1915), Jong
Soematranen Bond (1917), Jong Islamieten Bond (1924), Jong Batak, Jong
Minahasa, Jong Celebes, Jong Ambon, Sekar Roekoen dan Pemoeda Kaoem Betawi
(Sutejo, 2012: 2-3). Peran pemuda dalam pembentukan bangsa Indonesia di era
penjajahan sangatlah berpengaruh terhadap keberlangsungan bangsa ini kedepannya.
Melihat begitu kerasnya perjuangan
generasi kita terdahulu tidak sepantasnya kita menyianyiakan waktu saat ini
untuk hal-hal yang unfaedah dan melanggar norma, seperti yang telah saya
paparkan sebelumnya. Jika mereka berjuang pada masa penjajahan dengan melakukan
pergerakan nasional, maka berbeda dengan cara kita yang harus berjuang untuk
kepentingan bangsa ini. Karena tujuan yang akan dicapai saat ini menuju
kemajuan, bukan lagi penjajahan.
Sekarang kita ubah dari ‘kids jaman
now’ menjadi ‘generasi jaman now’ yang memiliki bobot lebih baik, ubahlah dari
segi moral bangsa ini. Bukankah bangsa ini dahulu terkenal dengan sopan
santunnya oleh orang luar, mari kita galakkan hal itu. Dari diri kita selaku
generasi penerus bangsa ini, junjung nilai karakter yang tidak hanya sebagai
semboyan namun kita terapkan dalam kehidupan sehari hari. Kemudian dengan
menggalakkan berbagai sosialisasi dan kegiatan kepemudaan yang berisi hal-hal
kemasyarakatan dan pengetahuan untuk menjadi pemuda yang sesungguhnya.
Tantangan generasi saat ini yaitu
perkembangan jaman, dimana kita harus menggunkannya sebagai ajang meraih
prestasi dalam kompetisi dengan negara lain, setidaknya kita ikut
berpartisipasi dalam acara internasional, maupun nasional. Pendidikan menjadi
bahan pokok untuk menumbuhkan bibit-bibit unggul dari anak Indonesia.
Pendidikan dalam hal akademik maupun sosial, misalnya dalam kalangan mahasiswa
yaitu dengan mengikuti kegiatan konferensi dengan berbagai negara, sehingga
dalam konferensi tersebut kita dapat bertukar pikiran tentang apa yang sedang
terjadi di negara lain dan negara kita sendiri. Belajar dari hal tersebut, kita
akan mendapatkan berbagai pengalaman menarik yang bahkan kita sendiri tidak
menyangka, bahwa apa yang menjadi permasalahan di negara kita sendiri ternyata
kita menemukan pemecahan masalahnya di negara lain, atau bisa kita sebut dengan
‘berkaca dari negara tetangga’. Selain itu, kita menambah wawasan tentang
permasalahan yang belum pernah terjadi di Indonesia, namun hal itu sudah
dialami oleh negara lain, sehingga kita bisa mencegah atau mengurangi
permasalahan yang belum atau bahkan muncul di negara kita akibat adanya arus
teknologi sekarang ini. Bertukar pikiran dengan orang dari negara lain memang
asyik untuk dikaji, dari permasalahan negara, sosial, dan budaya kita akan
saling mengetahui dengan seksama melalui konferensi-konferensi yang diadakan.
Kemudian, jika dalam lingkup nasional kita lebih bersosialisasi
dengan masyarakat, dengan memberikan inovasi-inovasi untuk memajukan kehidupan masyarakat
Indonesia, terutama di daerah yang masih dalam kategori kurang. Kita bisa
memberikan ilmu yang kita dapatkan di bangku kuliah kepada masyarakat dengan
cara yang menjadi masalah masyarakat tersebut itu apa? Dan memecahkan
bersama-sama melalui musyawarah dan ide yang kita tawarkan. Sehingga
kebermakanaan kita dalam masyarakat menjadi berguna, misal saja dalam kegiatan
gotong royong, sebagai generasi penerus bangsa ini kita ikut berpartisipasi
karena itu merupakan bentuk kerukunan dengan masyarakat. Dan budaya bangsa
Indonesia yang harus dijaga dengan mengikutinya, karena jika kita lihat
masyarakat yang bergotong royong kebanyakan dari kalangan orang tua, sedangkan
pemuda pemudi jarang terlihat, karena mereka banyak yang pergi menempuh
pendidikan maupun bekerja di luar kota. Diharapkan mereka dapat kembali
membangun desa mereka sendiri. Itulah beberapa contoh yang dapat kita gunakan
sebagai bentuk kebermanfaatan pemuda sekarang ini.
Pemuda juga sebagai jembatan antara masyarakat dengan pemerintah,
apabila terjadi kesenjangan antar masyarakat dengan pemerintah, maka pemuda
yang menjadi jalan perantaranya. Pemerintah menetapkan kebijakan dan masyarakat
merasa keberatan atau terbebani dengan kebijakan tersebut. Maka kita tidak akan
diam saja, sampaikan keluh kesah masyarakat kepada pemerintah melalui diskusi
atau musyawarah bersama untuk mengambil keputusan bersama, hindari demonstrasi
yang menyebabkan kericuhan dan meresahkan warga. Karena sebagai pemuda apabila
melakukan demonstrasi dan menyebabkan kericuhan terkadang ada pihak lain yang
ingin membuat kerusuhan, oleh karena itu lakukannlah dengan tata cara yang baik
dan sesuai aturan menghindari perbuatan yang dapat menyebabkan kekacauan.
Kembali ke tujuan awal kita sebagai penyalur dari masyarakat untuk kepentingan
masyarakat dengan hati yang dingin pula.
Peran pemuda saat ini harus dapat
menyikapi permasalahan yang ada di sekitanya dan juga menanamkan nilai
pancasila sebagai wujud penghormatan kita terhadap perjuangan para pahlawan
dalam merebut kemerdekaan ini. Sebagai pemuda kewajiban bagi kita untuk menjaga
kemerdekaan ini yang telah direbut dengan berbagai pertumpah darah. Dan
menanamkan karakter dalam diri sendiri sebagai perwujudan moral bangsa ini.
Sebagai generasi penerus masih panjang jalan kita untuk menentukan nasib bangsa
ini, yang ada digenggaman kita. Akan kita bawa ke arah yang lebih baik dengan
segala perjuangan yang akan kita lalui bersama. Saling mengokohkan pondasi
dengan semangat nasionalisme dengan meningkatkan prestasi di segala bidang
pendidikan, ekonomi, sosial dan budaya. Setiap generasi memiliki perannya
masing-masing, saling berkaitan antara satu dengan yang lain dan saling
melengkapi. Menghindari perselisihan yang dapat menimbulkan kehancuran, intinya
sebagai generasi penerus bangsa ini kita saling berpengang tangan saling
membantu, jika salah satu kawan jatuh maka tariklah keatas dan jika telah
sampai pada puncaknya maka bantulah kawan untuk mencapai puncak tersebut.
Esai ini diikutsertakan dalam lomba 72 Wajah Indonesia
Komentar
Posting Komentar