Children is Fun



Children is fun? Ho they can be fun, when they had unmood?
Oke, children is complicated yeaa... Tapi itu bisa jadi suatu hal yang funny buat kita untuk menghadapinya. So, disini aku punya cerita tentang 3 anak yang memiliki karakter berbeda-beda dan perlakuan yg berbeda-beda pula, dari mereka kita akan belajar tentang memahami anak.

First, my brother. Dia anak kelas 1 saat sedang belajar membaca denganku, but tepat di tahun ini dia kelas 4. Saat dia belajar membaca, aku begitu tak sabar menanganinya, kuceritakan tentang kehidupan yang keras ini, bayangkan anak sekecil itu benar-benar aku tekan untuk belajar membaca. Kuceritakan tentang ayah yang bekerja keras demi anaknya, untuk anaknya, untuk sekolah anaknya, untuk makan anaknya, seorang ayah yang bekerja di bawah terik matahari dengan keringat bercucuran, ia rela pulang berbulan-bulan demi kita, namun kamu hanya disuruh belajar membaca saja tak bisa, malas, begitu cara kamu menyayangi orang ayahmu?  Kamu sayang ngga sama bapak? Kamu disini belajar di tempat teduh, tidak ingatkah dengan bapakmu dimana ia mencari uang untuk kita, dibawah terik matahari dek, sampai sakit pun ngga ada yang merawatnya dan bapak itu merawat dirinya sendiri, karna kita jauh dek, bapak di Surabaya sendiri, kita disini berkumpul. Seperti itulah cerita yg kusampaikan kepada adikku hingga dia menangis tersedu-sedu. Duh aku jadi merasa bersalah, caraku kurang tepat. Hingga beberapa minggu adikku jadi giat belajar membaca, sesampainya dirumah sepulang dr Semarang aku terkejut, adek ku sudah bisa membaca. Dari cerita ini, perlakuan yg aku berikan ke adekku itu berupa cerita kehidupan.

Second, children D. Dia anak kelas 2 berkebutuhan khusus. Waktu itu aku menjadi pengawas ulangan di kelasnya, kulihat anak itu. Wahhhh, aku pernah mengawasi anak ini sebelumnya dan alhasil dia unmood, gk mau mengerjakan ulangannya sampai selesai dan aku angkat tangannn. Ku berjalan ke arahnya di hari ini, beda dg hari sebelumnya. Ku duduk disampingnya, aku berfikir bagaimana mengatasi anak ini, and ku buat dia bercandaan dulu denganku, yang penting kita sama-sama nyambung dan dia mau berbicara denganku dengan nyaman, buat moodnya dia bagus dulu. Dan alhasil dia mengeluarkan suaranya, setelah kupancing-pancing. Dan ingat, selalu happy didepannya dan selingi dengan ledekan-ledekan kecil, misal "hayoo, kalo ngga mau ndengerin aku tembak kamu, dorr", "tk pek yaa buat aku tempat pensilnya, baguss ikk", buat jiwa kekanak-kanakan nya muncul, jadi asik dg kita . Soal pertama, tidak ku bacakan soalnya, tp kuceritakan, seolah-olah aku sedang membicarakan hal lain namun itu masih berkaitan dengan materi soalnya, ya dia bisa meresponku dengan bahasanya sendiri, baru lah ku bacakan soalnya, dan dia bisa menjawabnya, karna sudah aku pancing dulu, kalo dia ngga bisa atau ngga mau jawab, ledekin lagi, make dia funny pkoknya. Hyaa, sampai pada soal membuat kalimat dengan disajikan sebuah kata "menjual", tp dia ngga bisa langsung membuat kalimat itu, ku buatkan contoh tentang kantin sekolah, di sekolah ada kantin dan penjualnya saat istirahat kamu pasti ke kantin kan, ehhhh, ternyata dia gak pernah ke kantin, waduhhhh. Tp tiba-tiba dia cerita tentang ayah atau kakeknya yang berjualan kue di pasar, dia selalu membantu jualan di pasar tersebut, terlintas dalam pikiranku, wahhh, anak ini pinter juga sudah belajar berjualan sejak kecil, dia aktif di luar, but different when at school. Lhaaa, dari situ kupancing dia, "kamu jualan apa dipasar?" "jualan kue miss" dst, trus kusambungin kata menjual biar jadi kalimat, yowess saiki buat kalimat dari kata menjual, dia jawabnya, gak bisa miss, bisa hayooo, tadi katanya kamu jual kue, berarti Dezaa menjual..... menjual apa hayoo lanjutin, menjual kue, lhaa, sekarang gabungin Deza menjual kue dimanaa? Dimana hayooo, di pasar miss. lha trus gabungin lagi yg tadi udah diucapkan, inget2 hayooo, Deza menjual kue di pasar. Wahh pinterrr, lha iku isoooo, yee Dezaa bisa tooo, makannya bilang bisa kan jadi bisa beneran kan, yok lanjut buat kalimat xxxx, kalo ngga mau tk tembak dorr lhoo😂, bla bla bla blaaa, selesai lah soalnya. Wooo, anak ini itu pinter. Dari cerita ini anak D aku beri perlakuan funny.

Third, children A. Dia anak kelas 1 dan belum bisa calistung, tp setelah aku mengenalnya selama 3 minggu, ada hal yang berbeda dari dirinya, dia bisa menulis alfabet yg aku ucapkan, tapi pada beberapa huruf ia menuliskannya terbalik, dan itu berkali-kali, dan pada huruf tertentu ia kesulitan menangkapnya, hingga kusamakan huruf itu dengan benda2 di sekitarnya, dan dia mulai dapat menerimanya. Jadii, hari ini aku mengajarinya, tp mood dia hari ini sedang tidak baik "NO UNTUK BELAJAR", wahhh, yang kedua kalinya anak ini seperti ini, gak mau hal sebelumnya terulang kembali dimana ia benar2 nggak belajar, sepertinya belajar adalah hal yg ngga ingin dia dengar, dia mulai cari2 alasan untuk ngga belajar, mau ambil minum di dapur tapi lama banget, kubiarkan dia, tp karna lama ngga balik2, akhirnya aku datengin, dan aku ajak untuk kedepan belajar, dia mau, lalu dia bilang lagi mau minum, aku biarkan ia kembali ke dapur, ehhh lama lagi, dan kembali kuajak belajar, dia rewel gak mau, akhirnya aku gendong lha dia, ku ajak duduk dan berbicara empat mata, ku teringat pada adekku sikap yang perlu aku ambil untuk mengatasi anak ini, mulailah kuceritakan tentang kehidupan, kuceritakan tentang anak2 yang tidak bersekolah karena tidak punya uang, mereka berjualan koran untuk mencari uang untuk makan mereka sendiri, sesusah itu mereka nak anak2 diluar sana, mereka ingin belajar seperti kamu, tp ngga ada yang bisa membayar uang sekolah, panas2 mereka tetap berjualan koran nak, hyakkk, ternyata anak itu hampir nangis tp ngga jadi, malah mengalihkan pandangannya ke televisi, duh cara ini ngga berhasil nih, bgaimana ya? Lalu ku bilangin lagi, ttg cita2, eh ngga berhasil juga, malah dia seperti kehilangan cita2nya, akhirnya tetaplah ku ajak dia bercandaan aja dari pada aku pusying pusying, aku ledekin dia, make funny dengan dia, dan separuh jiwanya sudah mulai membaik untuk diajak belajar, lhaa, kuajak belajar dia, kuajari dia mengerjakan soal, dia mulai menerimanya, ditengah2 belajarnya kita, jiwanya sudah sepenuhnya hidup untuk diajak belajar dan bercanda, kutanyain lha dia, why ngga mau belajar hari ini dan kemarin, ya banyak yg diucapkan, dan dia itu selalu bilang "NGGAK BISA" , wah ini yg harus dirubah, kamu itu "BISA", "kamu sekarang bisa naik sepeda?" ucapku, "bisa miss", lhaa pinterr, dulu kamu ngga bisa kan, tp skarang udah bisa karna kamu sering belajar naik sepeda berlatih berulang kali, lha jadi kamu "BISA" kann, wahh bisa kan, kata "BISA" harus kutanamkan padanya, trus tadi pagi kamu nagis ngga waktu berangkat sekolah? Ngga miss, cie cieeee ngga nangis lagiii, dia itu malah jadi malu2 seneng karna aku cie cie in, hahhaaa, trus, aku ledekin dia dengan kata "BAYI" hyakkk, bayi dong kalo pagi2 mau brangkat sekolah nagis, dia mengelak ngga ngga aku bukan bayii, wahh tambah suka aku ledekin terus anak ini, ya bayi dong, tadi aja mau belajar kamu tak gendong dulu biar mau belajar, bayi donggg, hyaaa bayii bayii. Disini ku menemukan ke fun.an dengan anak ini, ya kuberikan perlakuan funny pada anak ini, setelah perlakuan cerita kehidupan tak berhasil.

Jadii, pesan yang bisa diambil dari ketiga anak tersebut ialah:
1. Sabar and Be Positive Thinking
Sabar, kita memang harus sabar menghadapi anak-anak, ikutilah terlebih dahulu apa yang anak ingin lakukan, saat kita belum bisa mengendalikannya, ikuti alur dari anak tersebut, tp jangan lama-lama. Langsung ajak anak dengan cara yang halus, misal digendong (sperti pada anak A, belum menemukan cara lain lagi, hehhee). And then, positive thinking bahwa dia itu anak yang pinter dan penurut, karna mindset yg kita tanam pada diri kita itu benar2 terjadi sejalan dengan perlakuan kita kepada anak tersebut.

2. Make Them Friend
Buatlah mereka jadi teman kita, eh kebalik, buatlah kita menjadi teman mereka. Yaitu dengan cara mengajaknya bercanda, ledekan2 yang membuat mereka senang, jangan langsung mengjudge mereka dengan hal yg kita inginkan. Karena kalau mereka sudah berteman dengan kita maka akan terjalin komunikasi yang baik diantara anak dan kita, sudah saling nyambung dengan bahasa anak2, dengan masuk ke dunianya. Jadi berteman denganya terlebih dahulu, jg posisikan diri kita sebagai orang dewasa yg lebih tau segalanya dari anak. Intinya membaurlah dengan anak.

3. Cari Perlakuan yang Tepat
Yup, semua anak itu sama, tp kita beri pancingan atau perlakuan yang tepat. Cobalah semua cara yang membuat anak itu nyambung dengan kita, seperti cerita kehidupan atau lelucon yang pas (atau ada versi kalian untuk klop dengan anak). Try and try.

4. Sampaikan dengan Bahasa Anak2 Apa yg Ingin Disampaikan (Funny)
Jadi disini sampaikan dengan bahasa anak2 apa yang akan kita sampaikan, jangan terlalu kaku, always remember mood mereka, jadi menyampaikannya harus diselingi dengan lelucon sehingga mereka menerima apa yang kita sampaikan dan memahaminya. Sampaikan dengan menyambungkan ke kehidupan nyata sehari-hari mereka, sehingga mereka mengikuti alur kita karna kita sudah masuk ke dunianya.

5. Beri Semangat
Semangat kalau mereka pasti bisa melakukannya, semangati semangatii. Yaitu dengan contoh2 konkritnya mereka sendiri, dari yang sebelumnya BELUM BISA menjadi BISA. Semua anak pasti punya itu, lhaa tumbuhkan jiwa itu kembali ke mereka.

Yeyyyy finish, mff ya kalo ceritanya mblibet2, tp ada inti yg ingin aku sampaikan dan sharingkan dengan teman2, jadiii, Children is Fun, dengan ke.funny.an mereka, masuki dunia mereka terlebih dahulu hingga trjalin komunikasi yang baik, dan berikan arahan yang tepat sesuai yg ingin disampaikan. Mereka menerima itu dengan senang lhooo, bahkan asik untuk mereka dan kita. Semua anak itu sama, mereka semua butuh dukungan dan semangat kita semua
#weareone

Komentar

Posting Komentar